Mataram- Pelatihan guru-guru MTs.N 2 Mataram bersama beberapa guru Sekolah Dasar di Kabupaten Lombok Barat oleh Prof. Mahsun berlangsung selama empat hari di kantor beliau (Institut Riset Nasional) di Jalan Panjitilarnegara 125A Kekalik Jaya, Sekarbela. Pelatihan diselenggarakan mulai hari Sabtu, 11 September s/d Selasa, 14 September 2021 setelah berkomunikasi dengan Kepala MTs.N 2 Mataram bapak Sumber Hadi sehari sebelumnya. Bapak Sumber Hadi kemudian merespon dengan cepat gagasan tersebut dan mengutus beberapa  guru untuk mengikuti kegiatan dimaksud.

Pada pembukaan kegiatan pelatihan Prof. Mahsun menyatakan kesungguhan beliau untuk membantu madrasah khususnya MTs.N 2 Mataram dalam menjalankan fungsi kelembagaannya guna mewujudkan generasi madrasah yang sadar makna penting literasi. Madrasah yang menanamkan kecintaan yang tinggi terhadap minat membaca. Karena membaca adalah aktivitas yang akan mengantarkan manusia pada eksistensi sejatinya yakni makhluk berakal. Membaca adalah perintah Allah yang harus termanivestasi dalam aktivitas sebagai sarana untuk peningkatan kualitas akal budi manusia.

Untuk itu penting melatih dan membina guru-guru madrasah yang nantinya akan menjadi pioner dalam program literasi madrasah ke depannya. Selain para guru madrasah, siswa yang tergabung dalam ekstra kurikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR) MTs.N 2 Mataram juga akan dijadikan sebagai model penguatan literasi di madrasah, agar menjadi motivasi bagi siswa/i lainnya. Untuk diketahui bahwa akan ada episode berikutnya untuk pembinaan siswa/i KIR MTs.N 2 Mataram beberapa waktu ke depan sebagai wujud kesungguhan dalam menanamkan minat membaca (literasi) bagi siswa/i madrasah.

Selanjutnya Prof. Mahsun menyampaikan pentingnya gerakan literasi untuk anak-anak Indonesia. Literasi tidak terpisahkan dari dunia pendidikan. Literasi menjadi sarana peserta didik dalam mengenal, memahami, dan menerapkan ilmu yang didapatkannya di bangku sekolah. Literasi juga terkait dengan kehidupan peserta didik, baik di rumah maupun di lingkungan sekitarnya. Uji literasi membaca mengukur aspek memahami, menggunakan, dan merefleksikan hasil membaca dalam bentuk tulisan.

Program Gerakan Literasi Sekolah/Madrasah adalah sebuah gerakan memperkuat gerakan penumbuhan budi pekerti sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi  Pekerti. Salah satu kegiatan di dalam gerakan tersebut adalah “kegiatan 15 menit membaca buku  nonpelajaran sebelum waktu belajar dimulai”. Kegiatan ini dilaksanakan untuk menumbuhkan minat baca peserta didik serta meningkatkan keterampilan membaca agar pengetahuan dapat  dikuasai secara lebih baik. Materi baca berisi nilai-nilai budi pekerti, berupa kearifan lokal, nasional, dan global yang disampaikan sesuai tahap perkembangan peserta didik.

Selain itu, Kegiatan Gerakan Literasi Sekolah/Madrasah ditujukan untuk pemantapan Kurikulum 2013 bagi semua mata pelajaran dengan menerapkan strategi literasi dalam pembelajaran. Merujuk pada higher order thinking skills (HOTS, keterampilan bernalar tingkat tinggi), kompetensi abad XXI (kemampuan berpikir kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif), dan penguatan pendidikan karakter.

Dalam paparan berikutnya beliau menyampaikan data hasil study tentang perkembangan literasi di Indonesia. Dalam PIRLS 2011, Indonesia menduduki peringkat ke-42 dari 45 negara peserta dengan  skor 428 dari skor rata-rata 500 (IEA, 2012). Sementara itu, uji literasi membaca dalam PISA 2009 menunjukkan peserta didik Indonesia berada pada peringkat ke-57 dengan skor 402 (skor rata-rata OECD  493).

Sedangkan PISA 2012 menunjukkan peserta didik Indonesia berada pada peringkat ke- 64 dengan skor  396 (skor rata-rata OECD 496) (OECD, 2013). Sebanyak 65 negara berpartisipasi dalam PISA 2009 dan 2012. Posisi Indonesia tetap pada urutan ke-64 pada PISA 2015, dengan peserta terdiri atas 72 negara. Ini  berarti ada kenaikan hanya satu angka, dari 396 pada PISA 2012 menjadi 397 pada PISA 2015. Kenaikan ini  tidak cukup signifikan ketika penerapan Kurikulum 2013 yang berbasis teks sudah diberlakukan sejak tahun 2013 dan dua tahun kemudian PISA (juga berbasis teks) ditempuh pada 2015.

Pada tahun 2016, Puspendik Kemendikbud dalam program Indonesian National Assessment Program (INAP) atau Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) menguji keterampilan membaca, matematika,  dan sains peserta didik SD kelas IV. Khusus dalam membaca, hasilnya adalah 46,83% dalam kategori kurang, 47,11% dalam kategori cukup, dan hanya 6,06% dalam kategori baik.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan literasi peserta didik Indonesia masih tergolong rendah dan harus ditingkatkan. Permasalahan ini menegaskan bahwa pemerintah memerlukan strategi khusus agar kemampuan membaca peserta didik dapat meningkat. Salah satu caranya adalah mengintegrasikan program  sekolah dengan kegiatan dalam keluarga dan masyarakat, yang diwadahi oleh gerakan literasi.

Untuk itu diharapkan bapak/ibu guru peserta pelatihan agar mengikuti kegiatan ini dengan sungguh-sungguh, sebagai bentuk tanggung jawab bersama dalam menciptakan generasi hebat untuk Indonesia maju melalui gerakan literasi. Program ini  jelas merupakan upaya sekolah/madrasah dalam rangka mewujudkan generasi hebat dengan minat baca tinggi. Penting bagi madrasah/sekolah menyiapkan spot (pojok baca) bagi guru dan peserta didik agar membaca menjadi kebutuhan, budaya yang mewarnai (identitas) madrasah, karena Literasi dasar yang terdiri atas baca tulis, numerasi, sains, digital, finansial, budaya dan kewargaan merupakan bagian dari kecakapan abad XXI, bersama dengan kompetensi dan karakter yang akan bermuara pada pembelajaran sepanjang hayat.

Fokus pelatihan kali ini adalah tentang bagaimana menumbuhkan minat cinta baca bagi siswa/i, serta teknik menganalisis jenis-jenis teks bacaan. Apakah teks bacaan tersebut masuk pada kategori teks dan struktur berfikir Naratif, Anekdot, Eksemplum dan Cerita Ulang. Mengetahui jenis teks bacaan merupakan modal dasar untuk melatih siswa/i mengenali jenis tulisan yang akan dibuat kedepan sebagai tujuan akhir dari  program literasi madrasah/sekolah. Corak sebuah karya tulis sebagaimana kategori teks dan struktur berfikir di atas merupakan identitas penulis sebagai sebuah ungkapan pikiran dan perasaannya melalui sebuah karya.

Harapan kedepan semoga MTs.N 2 Mataram dengan program literasi dapat berkontribusi bagi peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia dengan peningkatan minat baca sebagai instrumen kunci untuk kualitas sebuah peradaban. Menumbuhkan kesadaran akan pentingnya literasi bagi insan pendidikan hari ini adalah sebuah keniscayaan. Karena Semakin berkembangnya kemampuan berpikir manusia maka akan semakin dinamis pula tantangan hidup  ke depan, terlebih di era digital. Tantangan itu harus direspon secara aktif dan tepat jika tidak ingin tertinggal dalam kompetisi global. Pendidikan dengan segenap kreativitas dan inovasi harus menjadi   jawaban akan tantangan dunia pendidikan di era 4.0.

Semoga ikhtiar sungguh-sungguh kepala madrasah dengan menggandeng Prof. Mahsun, seorang tokoh pendidikan di NTB yang telah berkontribusi besar pada konsep perubahan Kurikulum 2013  akan menjadikan MTs.N 2 Mataram menjadi lebih baik. Tentu dengan dukungan semua unsur kelembagaan, sehingga keberlangsungan program Gerakan Literasi  Madrasah mencapai tujuan yang diharapkan untuk peningkatan kualitas guru dan siswa/i terutama dalam bidang Literasi.

Tim Humas MTs.N 2 Mataram