Sosok Ahmad Tretetet, Tuan Guru tanpa Pondok Pesantren (Bagian Ketiga)

mtn2mataram.com – Assalamualaikum wr wb. Selamat beraktifitas untuk rekan-rekan sekalian. Jumpa lagi pada kesempatan ini, kembali admin share kelanjutan informasi terkait sosok seorang tokoh Lombok Ahmad Tretetet, Tuan Guru tanpa Pondok Pesantren (Bagian Ketiga). Silahkan simak informasi selengkapnya berikut ini sebagaimana kami kutip dari laman kicknews.com.

Mengenal Syeikh TGH Ahmad Tretetet bin TGH Umar Kelayu Bagian 3.
Almarhum Almaghfurullah Syeikh TGH Ahmad Tretetet bin TGH Umar Kelayu (Alm)

 
Bukan perkara mudah walau hanya untuk mendapatkan selembar foto, khususnya potret ulama eksentrik sekelas Tuan Guru Besar H Ahmad Tretetet. kicknews mencoba meng-search engine foto tokoh ini jauh sebelum serial tulisan ‘Ahmad Tretetet, Tuan Guru tanpa Pondok Pesantren’ mulai dipublis. Namun yang berhasil ditemukan hanya sebuah foto yang bersumber dari  dokumen yang berada di bangunan pemakaman sang legenda, di pemakaman Karang Kelok, Mataram. Dengan terus memburu dan mendesak sejumlah sumber yang pernah bertemu H Ahmad Tretetet semasa hidupnya, akhirnya kicknews berhasil memperolehnya.

————————————————————-

SEBUAH kotak kaleng hitam yang warnanya hampir memudar, dikeluarkan dari dalam bilik. Saat dibuka, beberapa lembar kertas yang nampaknya dokumen-dokumen penting dikeluarkan. Di antara lembar-lembar dokumen itu terselip foto ukuran 3R yang masih nampak utuh. Lebih dari 40 tahun foto itu tersimpan di dalam kaleng tersebut.

Penyimpan foto itu tak bersedia menceritakan riwayat potret TGH Ahmad Tretetet sampai di tangannya. Dia pun tak memperkenankan kicknews membawa foto tersebut, walaupun beberapa kali dijelaskan untuk kepentingan publikasi dan pendukung tulisan tentang Ahmad Tretetet. Tak ada jalan lain, untuk bisa mendapatkannya terpaksa foto di-repro di tempat.

“Tolong jangan menyebut nama saya sebagai asal foto,” pesannya.

Di foto itu, Ahmad Tretetet sedang duduk di kursi sambil jemari tangan kiri menjepit rokok lintingan yang abu sisa pembakaran hampir-hampir terjatuh. Jika diperhatikan seksama, lengan kanan ulama ini tertopang pegangan kursi, dengan telunjuk tegak ke depan seperti dilakukan pada saat tasyahhud dalam solat.

Kita kembali pada kisah Serintjiu (nama asli sesuai ejaan lama, sekaligus meralat nama yang bersangkutan pada posting sebelumnya) yang bertemu Ahmad Tretetet 13 tahun sebelum ia menikah.

Sri, nama panggilan Serintjiu, menuturkan detil pertemuannya dengan tokoh kontroversi tersebut. Saat berbaring di emper, Ahmad Tretetet berbantal kedua lengannya, dengan kaki diselonjorkan. Cara tiduran yang unik, dengan tumit kanan menindih jari-jari kaki kiri.

Ahmad Tretetet meminta Sri duduk dekat kepalanya yang sedang berbaring. Namun gadis ini memilih tetap berada dekat kaki ulama legendaris itu. Ini beralasan, sebab Sri masih dicekam keterkejutannya, sekaligus menjaga kemungkinan Ahmat Tretetet menyergapnya, akibat terpengaruh cerita tentang tingkah-laku negatif (secara kasat mata) lelaki itu.

“Tak ada kesan yang menunjukkan beliau itu berotak miring, seperti banyak diceritakan orang. Bicaranya juga normal dan wajar. Ini mengakhiri ketakutan saya selama itu dari cerita-cerita berlebihan sampai membuat beliau menjadi momok,” ungkap mantan pejabat yang sejak awal pengabdiannya ditempatkan di Biro Keuangan Pemprov NTB.

Ada yang menarik setelah akhirnya Sri memeluk agama Islam.

Manusia mana yang bisa mengetahui jalan hidupnya, selain hanya diketahui sang Khalik, Allah Azza wa Jalla.

Serintjiu menjalin hubungan dengan Drs Helmy Hasan yang sama-sama staf di Setda Provinsi NTB. Helmy Hasan adalah seorang Muslim, putra semata wayang Encek Hasan, penjahit masyhur di Ampenan.

Setelah menikah di tahun 1975, Sri bercerita kepada suaminya, bahwa jauh sebelumnya Tuan Guru Ahmad Tretetet sempat menyebut tentang ‘pengikut’ (baca: Mengenal Sosok Ahmad Tretetet, Tuan Guru tanpa Pondok Pesantren –  Bagian Pertama).

Penuturan Sri mengingatkan Helmy, di saat hampir bersamaan, Ahmad Tretetet tiba-tiba muncul di rumahnya. Tokoh ini dilayani ayah Helmy, disuguhkan sirih-pinang.

“Bapak saya kebetulan doyan makan sirih, dan semua orang tahu bahwa Haji Ahmad Tretetet penikmat sirih. Kami tak pernah bertemu sebelumnya, tapi kami tak menyangka beliau datang tiba-tiba. Waktunya kira-kira hampir sama dengan saat Sri berjumpa beliau, itu saat saya kelas 1 SMP,” tutur Helmi.

Cerita tentang pertemuan Serintjiu dan Helmy Hasan dengan Ahmad Tretetet secara terpisah, seperti sebuah simpul dan petunjuk perjodohan mereka di suatu saat.

“Ini sepertinya serba kebetulan. Tapi, Allah mengaturnya seperti demikian,” kata Helmy. (Bersambung)

Nah rekan-rekan semua itulah sejarah tokoh TGH. Ahmad Tretetet yang perlu diketahui untuk kita khususnya bagi anak-anak yang hidup di zaman now. Kami akan share kembali pada artikel berikutnya pada bagian keempat.

Sumber : https://www.kicknews.com/

Demikian informasi yang kami sampaikan terkait sejarah Syeikh TGH Ahmad Tretetet bin TGH Umar Kelayu Tanpa Pondok Pesantren. semoga informasi yang kami sampaikan ini bermanfaat dan terima kasih. (Lan)

Scroll to Top