mtn2mataram.com_ Assalamualaikum wr wb. Selamat beraktifitas untuk rekan-rekan sekalian. Jumpa lagi pada kesempatan ini, admin kembali share kelanjutan informasi terkait sosok seorang tokoh Lombok Ahmad Tretetet, Tuan Guru tanpa Pondok Pesantren (Bagian Keempat). Silahkan simak informasi selengkapnya berikut ini sebagaimana kami kutip dari laman kicknews.com.

Mengenal Syeikh TGH Ahmad Tretetet bin TGH Umar Kelayu Bagian 4.
Foto kiri: Almarhum Almaghfurullah Syeikh TGH Ahmad Tretetet dan foto kanan: Ayahandanya Almarhum Almaghfurullah Syeiekh TGH Umar Kelayu

Datuk Syeikh TGH Ahmad Tretetet bin TGH Umar Kelayu, sejak masa kecilnya, telah menunjukkan berbagai keistimewaan yang dibawanya sejak lahir. Lantaran memiliki ketajaman indera keenam ini, ayahnya, TGH Umar Kelayu sering mendapat masalah. Mau tak mau, ia mesti butuh Ahmad Tretetet turun tangan agar lepas dari persoalan.
——————————————————————

KELAYU, Lombok Timur, seratus dua puluh tahun silam, di kediaman TGH Umar Kelayu.

Tuan Guru Umar yang masyhur, guru dari sekian banyak ulama di Pulau Lombok ini memiliki dokar yang digunakan untuk berbagai keperluan. Seekor kuda jantan yang terawat dengan baik, gagah dan kuat, selalu siap sebagai penarik kendaraan tradisional itu. Dengan alat tranpostasi ini pula TGH Umar Kelayu bepergian ke tempat-tempat ia diundang untuk memberikan pengajian atau dakwah Islamiyah.

Entah bagaimana awalnya, kuda yang biasanya tak pernah rewel itu, belakangan sering bertingkah.

Suatu pagi, kusir dokar diminta menyiapkan transportasi untuk mengantar Tuan Guru Umar ke sebuah tempat. Ia membuka pintu kandang dan membawa kuda keluar untuk dipasangkan perlengkapan menarik dokar termasuk tali kendali.

Dokar telah siap, Tuan Guru Umar menaiki kendaraan khasnya. Kusir menghentak tali kekang, sebagai perintah agar kuda segera melaju. Tetapi, sang kuda tak jua bergerak maju. Berkali-kali tali kekang disentak tapi sang kuda itu tetap enggan keluar dari pekarangan sang Tuan Guru, malah kuda itu menghentak-hentakkan kakinya seraya mengais tanah. Inilah pertama kalinya kuda itu tak mau mematuhi komando kusirnya.

Sang kusir dokar mulai geram. Tatkala cemeti diayunkan hendak melecut punggung hewan tersebut, saat itulah Ahmad Tretetet kecil muncul. Bocah ini berseru agar kusir mengurungkan maksudnya yang hendak melecut sang kuda.

Ahmad Tretet mendekat, mengelus-elus kepala kuda penarik dokar. Telinga hewan itu bergerak-gerak seolah memahami maksud tuan kecilnya. Tak berlangsung lama, Ahmad Tretetet memberi isyarat kepada kusir. Baik kusir maupun Tuan Guru Umar terperangah heran ketika kuda itu tak ngambek lagi setelah ‘dibujuk’ Ahmad Tretetet. Untuk pertama kalinya Tuan Guru Umar mulai sadar bahwa putranya memiliki kelebihan yang tak dimiliki anak-anak seusianya.

Tidak sekali itu kuda jantan penarik dokar Tuan Guru Umar mogok jalan.

Berikutnya, ketika sang Tuan Guru berada di tengah perjalanan. Tiba-tiba kuda menghentikan langkah. Tapi kali ini Tuan Guru Umar segera mafhum.

“Cari anak itu, dia pasti ada bermain-main di sekitar sini,” perintah Tuan Guru Umar kepada kusirnya.

Benar saja. Tak lama kusir dokar datang tergesa-gesa diiringi Ahmad Tretetet. Seperti sebelumnya, ia mengelus kuda itu, dan beberapa saat kemudian Tuan Guru Umar meneruskan kembali perjalanannya.

Dan keanehan lainnya, hewan itu seketika akan berhenti saat inderanya menangkap keberadaan Ahmad Tretetet di sekitarnya. Makhluk tak berakal pun khidmat menghormatinya, tak bergerak sebelum mendapat restunya. (Bersambung)

Sumber : https://www.kicknews.com/

Demikian informasi yang kami sampaikan terkait sejarah Syeikh TGH Ahmad Tretetet bin TGH Umar Kelayu Tanpa Pondok Pesantren Bagian Keempat daan kita lanjutkan pada seri berikutnya. semoga informasi yang kami sampaikan ini bermanfaat dan terima kasih. (Lan)