mtn2mataram.com_ Assalamualaikum wr wb. Selamat beraktifitas untuk rekan-rekan sekalian. Pada kesempatan ini, admin kembali share kelanjutan informasi terkait sosok seorang tokoh Lombok Ahmad Tretetet, Tuan Guru tanpa Pondok Pesantren (Bagian Kelima). Silahkan simak informasi selengkapnya berikut ini sebagaimana kami kutip dari laman kicknews.com.

Mengenal Syeikh TGH Ahmad Tretetet bin TGH Umar Kelayu Bagian 5.
TGH Ahmad Tretetet

Dalam banyak cerita, Ahmad Tretetet konon sering mengambil terang-terangan barang milik siapa saja seraya berseru, “Halal, halal!”. Cerita yang disampaikan sekenanya, dari mulut ke mulut, mengesankan hal yang naif, seolah sang Waliyullah main rampas, meminta secara tak beretika. Jika tak diberikan, Ahmad Tretetet murka dan akibatnya fatal: rumah atau tempat pemilik barang musnah terbakar. Sungguh kisah-kisah yang tak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

———————————————-

HAJI Kasiran (alm), adalah ulama ternama di Lombok Tengah. Pengetahuan agamanya yang luas, berhasil menciptakan kondisi religius dan turut berperan dalam kebangkitan Islam di wilayah tersebut. Ditambah kapasitasnya sebagai pendiri dan pengasuh sebuah pondok pesantren, menobatkannya sebagai tuan guru yang cukup berpengaruh.

Kasiran tetap aktif memberikan pengabdian dan pencerahan hingga ia berusia lanjut.

Ada kejadian yang tak terbayang sebelumnya di benak ulama yang mulai uzur ini. Sebuah pertemuan yang tak disangka-sangka dengan urut-urutan peristiwa yang sulit dicerna otak manusia biasa.

Tiba-tiba ia sudah berada di Mataram. Berjalan dituntun sang ulama kontroversial TGH Ahmad Tretetet!

Telah lama Kasiran mendengar nama besar Ahmad Tretetet. Tapi seumur-umur baru kali itu ia bersua tokoh unik yang disegani para ulama se-Pulau Lombok itu. Bagaimana pun, hati tokoh alim ini bergetar, tak bisa menolak saat tangan Ahmad Tretetet memegang lengannya, menuntunnya berjalan tanpa mengetahui kemana tujuan.

Masih pagi saat itu, empat puluhan tahun silam. Mereka berhenti di sebuah bangunan huller (mesin penggiling padi). Tangan Ahmad  Tretetet masih memegang lengan Tuan Guru Kasiran.

Tempat penggilingan itu tak pernah sepi. Ada berkarung-karung beras yang siap diangkut ke truk yang sudah terpilah dari bulir-bulir gabah hasil proses huller. Ahmad Tretetet mendekati pemilik beras, jarinya menunjuk salah satu karung.

“Halal? Halal?” tanyanya.

Pemilik beras mengangguk, nampaknya ia mengenal sang legenda.

Ahmad Tretetet meminta Kasiran mengangkat sekarung beras yang ditunjuk. “Angkat. Bawa!” perintah Ahmad Tretetet.

Tuan Guru Kasiran tertegun ragu. Satu karung beras itu ditaksirnya lebih dari 50 kilogram. Semur hidup ia tak pernah memikul beban seberat itu. Ia menyadari dirinya yang kini telah renta, adalah tak mungkin mememenuhi permintaan Ahmad Tretetet. Perintah yang gila, pikirnya dalam hati.

Terdengar lagi suara Ahmad Tretetet, kini seperti memaksa, “Angkat! Bawa!”

Kembali Tuan Guru Kasiran tertegun. Ia ingin menjawab, tapi mulutnya seolah bungkam. Lidahnya terasa kaku. Saat ketiga kali mendengar seruan Ahmad Tretetet, tangan Kasiran gemetar memegang leher karung. Ia mencoba  mengangkat dengan kedua belah tangannya yang telah mengeriput dimakan usia.

Alangkah terkejutnya Tuan Guru Kasiran. Ia tak merasakan berat yang berarti. Seakan bumi tak bergravitasi, ketika ia menaikkan karung berisi beras puluhan kilo itu ke pundaknya yang ringkih. Ia seolah merasakan hanya membawa sebuah bantal kapuk!

Di depannya, Ahmad Tretetet memberi isyarat mengikutinya dari belakang. Mereka kembali berjalan, tak lama sampai di sebuah gubuk reot yang dihuni kaum duafa yang menampilkan hidup nyaris seperti gelandangan. Di depan pintu, ada wajah-wajah sayu menatap heran ke arah Ahmad  Tretetet dan Kasiran.

“Turunkan di situ,” kata Ahmad Tretetet, menunjuk karung beras yang masih berada di pundak Kasiran.

Saat menurunkan bawaannya itulah Tuan Guru Kasiran baru merasakan beban yang sesungguhnya! Sekarung beras itu meluncur jatuh di depan pintu, sedangkan Kasiran sempoyongan menahan tubuh yang hampir tersungkur setelah beban lepas dari pundaknya. (Bersambung).

Sumber : https://www.kicknews.com/

Demikian informasi yang kami sampaikan terkait sejarah Syeikh TGH Ahmad Tretetet bin TGH Umar Kelayu Tanpa Pondok Pesantren Bagian Kelima daan kita lanjutkan pada seri berikutnya. semoga informasi yang kami sampaikan ini bermanfaat dan terima kasih. (Lan)