Mataram- Penyerahan 120 eksemplar buku bacaan dengan 60 judul ragam cerita rakyat yang ada di Indonesia oleh Prof. Dr. Mahsun (Dosen Universitas Mataram) diterima langsung Kepala MTs.N 2 Mataram bapak Sumber Hadi didampingi ibu Ita Yuliarti (KTU) dan ibu Hj. Kariyani (Waka. Kesiswaan).

Penyerahan buku bacaan sebagai bahan literasi ini merupakan tindak lanjut dari diskusi tentang program peningkatan kualitas  penididikan dengan menanamkan minat membaca dan penanaman nilai (budi pekerti) bagi segenap komponen madrasah (guru-murid) dengan Prof. Dr. Mahsun sebagai langkah awal MTs. N 2 Mataram dalam melaksanakan secara serius program literasi Madrasah, mengingat literasi merupakan bagian terpenting dari proses peningkatan kualitas individu baik guru dan peserta didik.

Program ini  jelas merupakan upaya madrasah dalam menjalankan fungsinya dalam rangka mewujudkan generasi hebat dengan minat membaca yang tinggi. Untuk itu, ke depan kita akan menyiapkan spot-spot (pojok baca) bagi guru dan peserta didik agar membaca menjadi kebutuhan, budaya yang menjadi warna (identitas) MTs.N 2 Mataram ungkap Kepala Madrasah.

Literasi adalah istilah umum yang merujuk kepada seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung, dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga, literasi tidak bisa dilepaskan dari kemampuan berbahasa. Literasi dasar yang terdiri atas baca tulis, numerasi, sains, digital, finansial, budaya dan kewargaan merupakan bagian dari kecakapan abad XXI, bersama dengan kompetensi dan karakter, ketiga hal tersebut akan bermuara pada pembelajaran sepanjang hayat.

Dalam konteks nasional, Puspendik Kemendikbud mengembangkan Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (Indonesia National Assesment Program – INAP) yang setara dengan PIRLS, untuk menguji siswa SD kelas IV pada 2016. AKSI mengukur kemampuan siswa dalam mata pelajaran, membaca, matematika, dan sains.

Sayangnya, hasil PIRLS, AKSI, dan PISA peserta didik Indonesia, khususnya dalam keterampilan memahami bacaan, masih tergolong rendah. Hal ini menunjukkan bahwa proses pendidikan belum secara maksimal dapat mengembangkan kompetensi dan minat peserta didik terhadap pengetahuan.

Khusus dalam membaca, hasilnya adalah 46,83% dalam kategori kurang, 47,11% dalam kategori cukup, dan hanya 6,06% dalam kategori baik. Kondisi ini menunjukkan bahwa kemampuan literasi peserta didik Indonesia masih tergolong rendah dan harus ditingkatkan. Permasalahan ini menegaskan bahwa pemerintah memerlukan strategi khusus agar kemampuan membaca peserta didik dapat meningkat dengan mengintegrasikan/menindaklanjuti program sekolah dengan kegiatan dalam keluarga dan masyarakat, yang diwadahi dalam gerakan literasi.

Program Gerakan Literasi Sekolah/Madrasah adalah sebuah gerakan memperkuat gerakan penumbuhan budi pekerti sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi  Pekerti. Salah satu kegiatan di dalam gerakan tersebut adalah “kegiatan 15 menit membaca buku  nonpelajaran sebelum waktu belajar dimulai”. Kegiatan ini dilaksanakan untuk menumbuhkan minat baca peserta didik serta meningkatkan keterampilan membaca agar pengetahuan dapat  dikuasai secara lebih baik. Materi baca berisi nilai-nilai budi pekerti, berupa kearifan lokal, nasional, dan global yang disampaikan sesuai tahap perkembangan peserta didik.

Selain itu, Kegiatan Gerakan Literasi Sekolah/Madrasah ditujukan bagi pemantapan Kurikulum 2013 bagi semua mata pelajaran dengan menerapkan strategi literasi dalam pembelajaran dengan merujuk pada higher order thinking skills (HOTS, keterampilan bernalar tingkat tinggi), kompetensi abad XXI (kemampuan berpikir kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif), dan penguatan pendidikan karakter.(Baca: Desain Induk Gerakan Literasi Sekolah; 2019)

Dalam wawancaranya dengan tim Humas MTs.N 2 Mataram Prof. Mahsun menyampaikan bahwa literasi merupakan kebutuhan segenap individu, terlebih bagi insan pendidikan yang mencerminkan kualitas peradaban (maju mundurnya sebuah bangsa tergantung bagaimana kualitas pendidikannya). Membutuhkan spirit dan hendaknya dikelola secara seirus, sehingga dapat mewujudkan budaya baca di manapun, kapanpun. Inilah amanah yang harus dijalankan secara sungguh-sungguh dan berkesinambungan.

Menyediakan bahan bacaan sebagai penunjang program literasi madrasah berupa buku-buku dengan 60 tema tentang cerita rakyat dari ragam daerah di Indonesia merupakan media penanaman nilai (budi pekerti) dan kecintaan terhadap local wisdom (kearifan lokal) kepada peserta didik agar keragaman  budaya menjadi warna atau identitas bagi kamejemukan (entitas komunal) dalam bingkai persatuan dan kesatuan.

Selain itu bahan bacaan yang diserahkan untuk MTs.N 2 Mataram selain untuk penumbuhan budi pekerti juga dihajatkan sebagai ikhtiar insan pendidik dan segenap stak-holdernya untuk mengembangkan kemampuan berfikir karena satu jenis cerita bisa disampaikan melalui berbagai struktur berfikir teks. Karena berfikir dan bernalar adalah potensi terbaik yang dimiliki manusia sebagai anugerah ilahi yang tidak dimilki makhluk lainnya.

Secara spesifik dengan literasi, tingkat pemahaman seseorang dalam mengambil kesimpulan dari informasi yang diterima menjadi lebih baik, membantu orang berpikir secara kritis, dengan tidak mudah terlalu cepat bereaksi (reaksioner). Membantu meningkatkan pengetahuan masyarakat dengan cara membaca dan membantu menumbuhkan serta mengembangkan nilai budi pekerti yang baik dalam diri seseorang.

Selain itu, Kegiatan Gerakan Literasi ditujukan bagi pemantapan Kurikulum 2013 bagi semua mata pelajaran dengan menerapkan strategi literasi dalam pembelajaran dengan merujuk pada higher order thinking skills (HOTS, keterampilan bernalar tingkat tinggi), kompetensi abad XXI (kemampuan berpikir kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif), dan penguatan pendidikan karakter.

Harapan ke depan semoga MTs.N 2 Mataram dengan program literasi dapat berkontribusi bagi peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia dengan peningkatan minat baca sebagai instrumen kunci untuk kualitas sebuah peradaban dan jika dikelola secara serius maka akan menjadikan budaya membaca menjadi identitas madrasah dan sekaligus menjadi role-model literasi madrasah/sekolah ungkapnya.

Jadi, kesadaran akan pentingnya literasi bagi insan pendidikan hari ini adalah sebuah keniscayaan. Semakin berkembangnya kemampuan berpikir manusia maka akan semakin dinamis pula tantangan hidup dan kehidupan ke depan, terlebih di era digital hari ini. Tantangan itu harus direspon secara aktif dan tepat jika tidak ingin tetinggal dalam percaturan global. Pendidikan dengan segenap kreativitas dan inovasi harus menjadi   jawaban akan tantangan dunia pendidikan di era 4.0, karena tantangan kehidupan di era digital merupakan problem penting yang harus direspon secara tepat untuk kualitas pendidikan yang lebih baik.

Semoga ikhtiar sungguh-sungguh kepala madrasah dengan menggandeng seorang tokoh pendidikan dengan program literasi ini menjadikan MTs.N 2 Mataram menjadi lebih baik tentu dengan dukungan semua unsur kelembagaan, sehingga keberlangsungan program ini mencapai tujuan yang diharapkan dengan out-put madrasah semakin berkualitas.

Tim Humas MTs.N 2 Mataram